Halaman

Jumat, 01 Oktober 2010

Sejarah Masuknya Islam di Indonesia

Sejarah baru itu
terkuak dari perairan
Cirebon. Jejak-
jejaknya ditemukan
pada sekumpulan
harta karun di
kedalaman 50 meter
lebih dari permukaan
laut. Benda berharga
itu mengisi perut
kapal perdagangan
yang tenggelam
ribuan tahun silam di
60 mil utara Cirebon.
Ribuan artefak
berupa keramik,
emas, perak, dan
rubi itu telah
diangkat PT
Paradigma Putera
Sejahtera (PPS) dan
akan dilelang awal
Mei.
Peninggalan sejarah
dari dasar laut itu
menyimpan misteri
besar. Dari
sekumpulan benda
berharga itu,
ditemukan bukti
otentik yang bakal
mengubah informasi
sejarah penyebaran
Islam ke seluruh
dunia. Kurt
Tauchmann, profesor
emeritus di
Departemen
Antropologi
Universitas Cologne,
Jerman, mengaku
telah melihat
langsung bukti
sejarah itu.
Tauchmann
menemukan cetakan
untuk reproduksi
teks kitab suci Al-
Quran SURA XII-16 di
dalam naskah Naskhi
(Uthman). Reproduksi
teks itu kelihatannya
menggunakan debu
emas sebagai bahan
untuk mencetak
tulisan. Hasil cetakan
lalu dipakai sebagai
jimat. Ada pula
sejumlah tasbih
dengan aneka ragam
manik-manik, yang
juga bertuliskan teks
Arab seperti yang
tertulis di cetakan.
“Itu semua
menghadirkan
bukti sejarah
Islam yang
paling awal di
dalam wilayah
Indonesia, ”
ungkap
Tauchmann,
saat proses
pengangkatan
BMKT (benda
muatan kapal
tenggelam) di
perairan
Cirebon. Lebih
jauh, muatan
kapal yang
tenggelam di
abad ke-10 itu
membuka
berbagai
kemungkinan
rekonstruksi
ilmiah tentang
perubahan
bentuk sosial
dan ekonomi
sepanjang
milenium
pertama. Bukti
sejarah itu,
menurut
Tauchmann,
mengindikasikan
kehadiran orang
Iran dan
keturunan Arab
yang asli.
Demikian juga
hadirnya komunitas
beragama Buddha
dapat dikenali dari
pelat kecil yang
terukir teks empat
baris pada masing-
masing sisi di dalam
scripture Pali dan
kerang-kerangan
diukir untuk
membawa air kudus
dalam upacara
agama Buddha. Ada
pula beberapa objek
religius agama Hindu,
yang merupakan
gambaran simbolis
pemujaan Dewa
Siwa.
Horst Hubertus
Liebner, arkeolog
asal Jerman yang
ikut meriset temuan
laut Cirebon, sepakat
dengan Tauchmann
bahwa BMKT yang
diangkat PT PPS itu
merupakan temuan
terbesar sepanjang
sejarah. Horst
menilai, benda-
benda yang
ditemukan di kapal
itu bakal
mengungkap sejarah
baru, terutama
dalam penyebaran
Islam di dunia.
Kapal Cirebon
diperkirakan karam
pada tahun 960-990.
“ Kapal yang
memuat orang dari
semua agama itu
berteknologi dowel-
and-lashed-lug yang
menjadi ciri kapal
Nusantara, ”
ungkapnya. Bukti
adanya kaca di perut
kapal bisa
dihubungkan dengan
adanya pedagang
Arab dan Persia,
yang saat itu tidak
lagi berdagang
langsung ke Cina.
“ Mereka bermarkas
di sekitar Sriwijaya.
Sebab, menurut
catatan orang-orang
Cina, pada saat itu di
sekitar Kepulauan
Riau terdapat
gudang besar
perdagangan yang
dimiliki orang Arab
dan Persia, ” Horst
memaparkan.
Ini jelas erat
hubungannya
dengan penyebaran
Islam. Menurut Horst,
pada era itu,
pedagang Arab dan
Persia banyak yang
dibunuh dan diusir
dari wilayah Kanton,
Cina. Lantas para
pemeluk Islam itu lari
ke Sriwijaya dan
Melayu, dan
kemungkinan
menyebarkan agama
di sana. “Mereka
memperluas
ajarannya hingga ke
Jawa dengan
menumpang kapal-
kapal dagang, yang
salah satunya karam
di Cirebon itu,” kata
Horst.
Buktinya, ada
cetakan teks
Arab di dalam
kapal karam
Cirebon itu.
Horst
mengamati
secara detail
teks yang
tertulis. Salah
satunya
berbunyi “Al-
Malik Allah”,
“Al-Wahid”,
dan “Al-
Halala” (salah
satu huruf tidak
terlihat dengan
jelas). “Tulisan
itu menunjukkan
adanya tarekat
yang sangat
spesifik, ”
ungkapnya.
Hanya orang-
orang tertentu
yang menganut
tarekat
tersebut. Tulisan
serupa juga ada
di manik-manik
tasbih.
Horst menilai, semua
artefak bernuansa
religius itu menjadi
bukti tertua
masuknya Islam ke
wilayah Nusantara.
Bisa jadi, bila
penelitian berlanjut,
maka bukti tersebut
bakal mementahkan
cacatan sejarah
kedatangan Islam di
Tanah Air. Selama ini,
para ilmuwan
memercayai bahwa
masuknya Islam ke
Indonesia dimulai
pada 1250 Masehi
lewat pintu Samudra
Pasai. “Bukti dari
Cirebon itu akan
mengoreksi waktu
kedatangan Islam
hingga 300 tahun ke
belakang, ” katanya.
Heru Pamuji
[Ekonomi, Gatra
Nomor 26 Beredar
Kamis, 6 Mei 2010
]

Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman.as

Membaca judul
diatas, tentu
banyak orang yang
akan
mengernyitkan
dahi, sebagai tanda
ketidakpercayaannya.
Bahkan, mungkin
demikian pula
dengan Anda.
Sebab, Nabi
Sulaiman AS adalah
seorang utusan
Allah yang
diberikan
keistimewaan
dengan
kemampuannya
menaklukkan
seluruh makhluk
ciptaan Allah,
termasuk angin
yang tunduk di
bawah
kekuasaannya atas
izin Allah. Bahkan,
burung dan jin
selalu mematuhi
perintah Sulaiman.
Menurut Sami bin
Abdullah al-
Maghluts, dalam
bukunya Atlas
Sejarah Nabi dan
Rasul, Nabi
Sulaiman
diperkirakan hidup
pada abad ke-9
Sebelum Masehi
(989-931 SM), atau
sekitar 3.000 tahun
yang lalu.
Sementara itu,
Candi Borobudur
sebagaimana
tertulis dalam
berbagai buku
sejarah nasional,
didirikan oleh
Dinasti Syailendra
pada akhir abad
ke-8 Masehi atau
sekitar 1.200 tahun
yang lalu. Karena
itu, wajarlah bila
banyak orang yang
mungkin tertawa
kecut, geli, dan
geleng-geleng
kepala bila
disebutkan bahwa
Candi Borobudur
didirikan oleh Nabi
Sulaiman AS.
Candi Borobudur
merupakan candi
Budha. Berdekatan
dengan Candi
Borobudur adalah
Candi Pawon dan
Candi Mendut.
Beberapa kilometer
dari Candi
Borobudur,
terdapat Candi
Prambanan, Candi
Kalasan, Candi Sari,
Candi Plaosan, dan
lainnya. Candi-
candi di dekat
Prambanan ini
merupakan candi
Buddha yang
didirikan sekitar
tahun 772 dan 778
Masehi.
Lalu, apa
hubungannya
dengan Sulaiman?
Benarkah Candi
Borobudur
merupakan
peninggalan Nabi
Sulaiman yang
hebat dan agung
itu? Apa bukti-
buktinya?
Benarkah ada
jejak-jejak Islam di
candi Buddha
terbesar itu? Tentu
perlu penelitian
yang komprehensif
dan melibatkan
berbagai pihak
untuk
membuktikan
validitas dan
kebenarannya.
Namun, bila
pertanyaan di atas
diajukan kepada KH
Fahmi Basya, ahli
matematika Islam
itu akan
menjawabnya;
benar. Borobudur
merupakan
peninggalan Nabi
Sulaiman yang ada
di tanah Jawa.
Dalam bukunya,
Matematika Islam 3
(Republika, 2009),
KH Fahmi Basya
menyebutkan
beberapa ciri-ciri
Candi Borobudur
yang menjadi bukti
sebagai
peninggalan putra
Nabi Daud tersebut.
Di antaranya, hutan
atau negeri Saba,
makna Saba, nama
Sulaiman, buah
maja yang pahit,
dipindahkannya
istana Ratu Saba ke
wilayah kekuasaan
Nabi Sulaiman,
bangunan yang
tidak terselesaikan
oleh para jin,
tempat
berkumpulnya Ratu
Saba, dan lainnya.
Dalam Alquran,
kisah Nabi
Sulaiman dan Ratu
Saba disebutkan
dalam surah An-
Naml [27]: 15-44,
Saba [34]: 12-16,
al-Anbiya [21]:
78-81, dan lainnya.
Tentu saja, banyak
yang tidak percaya
bila Borobudur
merupakan
peninggalan
Sulaiman.
Di antara
alasannya, karena
Sulaiman hidup
pada abad ke-10
SM, sedangkan
Borobudur
dibangun pada
abad ke-8 Masehi.
Kemudian, menurut
banyak pihak,
peristiwa dan kisah
Sulaiman itu terjadi
di wilayah
Palestina, dan Saba
di Yaman Selatan,
sedangkan
Borobudur di
Indonesia.
Tentu saja hal ini
menimbulkan
penasaran. Apalagi,
KH Fahmi Basya
menunjukkan
bukti-buktinya
berdasarkan
keterangan
Alquran. Lalu, apa
bukti sahih andai
Borobudur
merupakan
peninggalan
Sulaiman atau
bangunan yang
pembuatannya
merupakan
perintah Sulaiman?
Menurut Fahmi
Basya, dan seperti
yang penulis lihat
melalui relief-relief
yang ada, memang
terdapat beberapa
simbol, yang
mengesankan dan
identik dengan
kisah Sulaiman dan
Ratu Saba,
sebagaimana
keterangan
Alquran. Pertama
adalah tentang
tabut, yaitu sebuah
kotak atau peti
yang berisi warisan
Nabi Daud AS
kepada Sulaiman.
Konon, di dalamnya
terdapat kitab
Zabur, Taurat, dan
Tingkat Musa, serta
memberikan
ketenangan. Pada
relief yang
terdapat di
Borobudur, tampak
peti atau tabut itu
dijaga oleh
seseorang.
“Dan Nabi mereka
mengatakan
kepada mereka:
‘ Sesungguhnya
tanda ia akan
menjadi raja, ialah
kembalinya tabut
kepadamu, di
dalamnya terdapat
ketenangan dari
Tuhanmu dan sisa
dari peninggalan
keluarga Musa dan
keluarga Harun;
tabut itu dibawa
malaikat.
Sesungguhnya
pada yang
demikian itu
terdapat tanda
bagimu, jika kamu
orang yang
beriman’.” (QS
Al-Baqarah [2]: 248)
.
Kedua, pekerjaan
jin yang tidak
selesai ketika
mengetahui
Sulaiman telah
wafat. (QS Saba
[34]: 14). Saat
mengetahui
Sulaiman wafat,
para jin pun
menghentikan
pekerjaannya. Di
Borobudur,
terdapat patung
yang belum tuntas
diselesaikan.
Patung itu disebut
dengan Unfinished
Solomon.
Ketiga, para jin
diperintahkan
membangun
gedung yang tinggi
dan membuat
patung-patung. (QS
Saba [34]: 13).
Seperti diketahui,
banyak patung
Buddha yang ada di
Borobudur.
Sedangkan gedung
atau bangunan
yang tinggi itu
adalah Candi
Prambanan.
Keempat, Sulaiman
berbicara dengan
burung-burung dan
hewan-hewan. (QS
An-Naml [27]:
20-22). Reliefnya
juga ada. Bahkan,
sejumlah frame
relief Borobudur
bermotifkan bunga
dan burung.
Terdapat pula
sejumlah relief
hewan lain, seperti
gajah, kuda, babi,
anjing, monyet, dan
lainnya.
Kelima, kisah Ratu
Saba dan
rakyatnya yang
menyembah
matahari dan
bersujud kepada
sesama manusia.
(QS An-Naml [27]:
22). Menurut Fahmi
Basya, Saba artinya
berkumpul atau
tempat berkumpul.
Ungkapan burung
Hud-hud tentang
Saba, karena
burung tidak
mengetahui nama
daerah itu.
“Jangankan
burung, manusia
saja ketika berada
di atas pesawat,
tidak akan tahu
nama sebuah kota
atau negeri, ”
katanya
menjelaskan.
Ditambahkan
Fahmi Basya,
tempat
berkumpulnya
manusia itu adalah
di Candi Ratu Boko
yang terletak
sekitar 36
kilometer dari
Borobudur. Jarak
ini juga
memungkinkan
burung menempuh
perjalanan dalam
sekali terbang.
Keenam, Saba ada
di Indonesia, yakni
Wonosobo. Dalam
Alquran, wilayah
Saba ditumbuhi
pohon yang sangat
banyak. (QS Saba
[34]: 15). Dalam
kamus bahasa
Jawi Kuno, yang
disusun oleh Dr
Maharsi, kata
‘Wana’
bermakna hutan.
Jadi, menurut
Fahmi, wana saba
atau Wonosobo
adalah hutan Saba.
Ketujuh, buah
‘ maja’ yang
pahit. Ketika banjir
besar (Sail al-Arim)
menimpa wilayah
Saba, pepohonan
yang ada di
sekitarnya menjadi
pahit sebagai azab
Allah kepada
orang-orang yang
mendustakan ayat-
ayat-Nya.
“ Tetapi, mereka
berpaling maka
Kami datangkan
kepada mereka
banjir yang besar
[1236] dan Kami
ganti kedua kebun
mereka dengan
dua kebun yang
ditumbuhi (pohon-
pohon) yang
berbuah pahit,
pohon Atsl dan
sedikit dari pohon
Sidr. ” (QS Saba
[34]: 16).
Kedelapan, nama
Sulaiman
menunjukkan
sebagai nama
orang Jawa.
Awalan kata
‘su’merupakan
nama-nama Jawa.
Dan, Sulaiman
adalah satu-
satunya nabi dan
rasul yang 25
orang, yang
namanya
berawalan ‘Su’.
Kesembilan,
Sulaiman berkirim
surat kepada Ratu
Saba melalui
burung Hud-hud.
“ Pergilah kamu
dengan membawa
suratku ini. ” (QS
An-Naml [27]: 28).
Menurut Fahmi,
surat itu ditulis di
atas pelat emas
sebagai bentuk
kekayaan Nabi
Sulaiman.
Ditambahkannya,
surat itu ditemukan
di sebuah kolam di
Candi Ratu Boko.
Kesepuluh,
bangunan yang
tinggal sedikit
(Sidrin qalil). Lihat
surah Saba [34] 16).
Bangunan yang
tinggal sedikit itu
adalah wilayah
Candi Ratu Boko.
Dan di sana
terdapat sejumlah
stupa yang tinggal
sedikit. “Ini
membuktikan
bahwa Istana Ratu
Boko adalah istana
Ratu Saba yang
dipindahkan atas
perintah
Sulaiman,” kata
Fahmi
menegaskan.
Selain bukti-bukti
di atas, kata Fahmi,
masih banyak lagi
bukti lainnya yang
menunjukkan
bahwa kisah Ratu
Saba dan Sulaiman
terjadi di Indonesia.
Seperti terjadinya
angin Muson yang
bertiup dari Asia
dan Australia (QS
Saba [34]: 12),
kisah istana yang
hilang atau
dipindahkan, dialog
Ratu Bilqis dengan
para pembesarnya
ketika menerima
surat Sulaiman (QS
An-Naml [27]: 32),
nama Kabupaten
Sleman, Kecamatan
Salaman, Desa
Salam, dan lainnya.
Dengan bukti-bukti
di atas, Fahmi
Basya meyakini
bahwa Borobudur
merupakan
peninggalan
Sulaiman.
Bagaimana dengan
pembaca? Hanya
Allah yang
mengetahuinya.
Wallahu A’lam.
Red: Budi